Cari Blog Ini

Kamis, 30 Mei 2024

Riwayat Pondok Buntet Pesantren

Pondok Pesantren Buntet adalah salah satu pesantren yang menjadi poros kaum NU di Jawa Barat. Pesantren ini adalah perintis NU di wilayah Cirebon dan Jawa Barat, melahirkan tokoh-tokoh besar seperti KH. Abdullah Abbas, KH. Mustahdi, KH. Mustamid, dan lain-lain. Pesantren ini juga menjadi pusat penyebaran dua tarekat di Jawa Barat, yaitu Syatariyah dan Tijaniyah. Pesantren ini dikenal sebagai pesantren pencetak santri-santri nasionalis yang sangat dihormati di Jawa Barat dan di kalangan NU karena mengajarkan sejarah kebangsaan indonesia dalam kurikulumnya.

Sejarah pesantren Buntet dimulai oleh Mbah Muqayyim (KH. Muqayyim bin Abdul Hadi), seorang Mufti Besar Kesultanan Cirebon. Mbah Muqayyim bersikap non kooperatif terhadap penjajah Belanda. Dia kemudian meninggalkan kesultanan dan merintis pesantren bernama Pondok Pesantren Buntet, pada 1758 setelah berpindah-pindah karena diintai dan dikejar Belanda selama delapan tahun.

Masa perintisan dan pembentukan pesantren dilakukan dalam dua generasi, yaitu Mbah Muqayyim dan KH. Muta’ad. Pada masa KH. Muta’ad ini, ada anaknya yang membantunya mengembangkan pesantren bernama KH. Anwaruddin al-Kiryani, yang kemudian disebut sebagai Buyut Kiryan. Ki Buyut Kiryan inilah yang membawa tarekat Syatariyah ke Pesantren Buntet, dan sempat memimpin pesantren sebelum akhirnya berpindah menjadi penghulu keraton.

Masa pengembangan kemudian dilakukan pada kepemimpinan KH. Jamil (1842-1919). Kajian-kajian Kitab Kuning dilakukan secara teratur meliputi kitab-kitab kelas tinggi, yaitu Fath al-Wahhab, Shahih al-Bukhari, Shahih Muslim, Alfiyah, Syudzur adz-Dzahab. Setelah KH. Jamil, kepemimpinan dilanjutkan KH. Abbas, dan pada masanya pesantren terlibat dalam perang melawan Belanda. Sehingga selain menjadi pusat spiritual, Pesantren Buntet juga menjadi pusat politik dan pendidikan.

Pada masa KH. Abbas –yang menjadi sahabat karib sekaligus murid KH. Hasyim Asy’ari– mata pelajaran ditambah, di antaranya Geografi, Bahasa Indonesia, Ilmu Alam, dan Sejarah Kebangsaan. Dengan pelajaran-pelajaran inilah, kemudian Pesantren Buntet berusaha mencetak kader-kader bangsa. Pada masa KH. Abbas ini pula tarekat Tijaniyah masuk dan berkembang. Meski awalnya di kalangan NU tarekat ini menimbulkan perdebatan, akhirnya diterima sebagai bagian dari tarekat yang sah pada Kongres NU ke-6 tahun 1931 di Cirebon.

Setelah KH. Abbas, kepemimpinan pesantren dilanjutkan KH. Mustahdi Abbas, dan kemudian dilanjutkan KH. Mustamid Abbas, KH. Abdullah Abbas dan KH. Nahduddin Abbas. Pengelolaan pesantren yang awalnya semua dipimpin kiai, diubah menjadi pengelolaan berbentuk yayasan yang bernama Yayasan Lembaga Pendidikan Islam (YLPI) Pondok Pesantren Buntet Cirebon. Salah satu tugas yayasan ini adalah mengelola dan menyelenggarakan pendidikan formal dan non-formal.

Dalam pengelolaan pendidikan, Pesantren Buntet memiliki asrama sebagai tempat tinggal santri. Awalnya, asrama tempat tinggal santri berada di Pondok Pesantren Buntet dalam satu blok, yaitu di depan Masjid Jami’ Kampung Pesantren Buntet. Nama-nama asrama memakai huruf abjad, yaitu Asrama A, Asrama B, Asrama C dan seterusnya sampai Asrama K. Di samping itu, juga ada asrama-asrama dengan nama daerah tertentu. Asrama-asrama ini kemudian dibongkar karena sudah tua, dan para santri diserahkan pada kiai pengasuh masing-masing yang kemudian memiliki asrama-asrama, yang berlanjut hingga kini. Asrama-asrama ini sekarang dibagi dalam tiga kelompok besar, yaitu pondok pesantren 1, 2, dan 3 yang dihuni ribuan santri.

Pesantren Buntet juga mengembangkan pendidikan sekolah, dan sampai saat ini telah memiliki Taman Kanak-kanak, Madrasah Ibtidaiyah (MI), MTs NU, SMP Al Ikhlas, MA NU, Akper, Lembaga Bahasa dan Komputer (LBK).

Pengembangan pondok pesantren Buntet ini terus dilakukan sampai sekarang dan dijadikan tujuan para santri dari berbagai belahan Indonesia untuk menuntut ilmu. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar