Pondok Pesantren Buntet adalah
salah satu pesantren yang menjadi poros kaum NU di Jawa Barat. Pesantren ini
adalah perintis NU di wilayah Cirebon dan Jawa Barat, melahirkan tokoh-tokoh
besar seperti KH. Abdullah Abbas, KH. Mustahdi, KH. Mustamid, dan lain-lain.
Pesantren ini juga menjadi pusat penyebaran dua tarekat di Jawa Barat, yaitu
Syatariyah dan Tijaniyah. Pesantren ini dikenal sebagai pesantren pencetak
santri-santri nasionalis yang sangat dihormati di Jawa Barat dan di kalangan NU
karena mengajarkan sejarah kebangsaan indonesia dalam kurikulumnya.
Sejarah pesantren Buntet dimulai
oleh Mbah Muqayyim (KH. Muqayyim bin Abdul Hadi), seorang Mufti Besar
Kesultanan Cirebon. Mbah Muqayyim bersikap non kooperatif terhadap penjajah
Belanda. Dia kemudian meninggalkan kesultanan dan merintis pesantren bernama
Pondok Pesantren Buntet, pada 1758 setelah berpindah-pindah karena diintai dan
dikejar Belanda selama delapan tahun.
Masa perintisan dan pembentukan
pesantren dilakukan dalam dua generasi, yaitu Mbah Muqayyim dan KH. Muta’ad.
Pada masa KH. Muta’ad ini, ada anaknya yang membantunya mengembangkan pesantren
bernama KH. Anwaruddin al-Kiryani, yang kemudian disebut sebagai Buyut Kiryan.
Ki Buyut Kiryan inilah yang membawa tarekat Syatariyah ke Pesantren Buntet, dan
sempat memimpin pesantren sebelum akhirnya berpindah menjadi penghulu keraton.
Masa pengembangan kemudian
dilakukan pada kepemimpinan KH. Jamil (1842-1919). Kajian-kajian Kitab Kuning
dilakukan secara teratur meliputi kitab-kitab kelas tinggi, yaitu Fath
al-Wahhab, Shahih al-Bukhari, Shahih Muslim, Alfiyah, Syudzur adz-Dzahab.
Setelah KH. Jamil, kepemimpinan dilanjutkan KH. Abbas, dan pada masanya
pesantren terlibat dalam perang melawan Belanda. Sehingga selain menjadi pusat
spiritual, Pesantren Buntet juga menjadi pusat politik dan pendidikan.
Pada masa KH. Abbas –yang
menjadi sahabat karib sekaligus murid KH. Hasyim Asy’ari– mata pelajaran
ditambah, di antaranya Geografi, Bahasa Indonesia, Ilmu Alam, dan Sejarah Kebangsaan.
Dengan pelajaran-pelajaran inilah, kemudian Pesantren Buntet berusaha mencetak
kader-kader bangsa. Pada masa KH. Abbas ini pula tarekat Tijaniyah masuk dan
berkembang. Meski awalnya di kalangan NU tarekat ini menimbulkan perdebatan,
akhirnya diterima sebagai bagian dari tarekat yang sah pada Kongres NU ke-6
tahun 1931 di Cirebon.
Setelah KH. Abbas, kepemimpinan
pesantren dilanjutkan KH. Mustahdi Abbas, dan kemudian dilanjutkan KH. Mustamid
Abbas, KH. Abdullah Abbas dan KH. Nahduddin Abbas. Pengelolaan pesantren yang
awalnya semua dipimpin kiai, diubah menjadi pengelolaan berbentuk yayasan yang
bernama Yayasan Lembaga Pendidikan Islam (YLPI) Pondok Pesantren Buntet
Cirebon. Salah satu tugas yayasan ini adalah mengelola dan menyelenggarakan
pendidikan formal dan non-formal.
Dalam pengelolaan pendidikan,
Pesantren Buntet memiliki asrama sebagai tempat tinggal santri. Awalnya, asrama
tempat tinggal santri berada di Pondok Pesantren Buntet dalam satu blok, yaitu
di depan Masjid Jami’ Kampung Pesantren Buntet. Nama-nama asrama memakai huruf
abjad, yaitu Asrama A, Asrama B, Asrama C dan seterusnya sampai Asrama K. Di
samping itu, juga ada asrama-asrama dengan nama daerah tertentu. Asrama-asrama
ini kemudian dibongkar karena sudah tua, dan para santri diserahkan pada kiai
pengasuh masing-masing yang kemudian memiliki asrama-asrama, yang berlanjut
hingga kini. Asrama-asrama ini sekarang dibagi dalam tiga kelompok besar, yaitu
pondok pesantren 1, 2, dan 3 yang dihuni ribuan santri.
Pesantren Buntet juga mengembangkan
pendidikan sekolah, dan sampai saat ini telah memiliki Taman Kanak-kanak,
Madrasah Ibtidaiyah (MI), MTs NU, SMP Al Ikhlas, MA NU, Akper, Lembaga Bahasa
dan Komputer (LBK).
Pengembangan pondok pesantren Buntet ini terus dilakukan sampai sekarang
dan dijadikan tujuan para santri dari berbagai belahan Indonesia untuk menuntut
ilmu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar